|
Oleh para pemujanya, demokrasi sering diklaim sebagai sistem pemerintahan terbaik, terutama saat dihadapkan dengan sistem pemerintahan otoriter atau totaliter. Padahal sejak diperkenalkan sebagai sebuah sistem politik modern hingga hari ini, tipikal negara yang benar-benar demokratis masih sebatas ada dalam angan.
Amerika misalnya, yang dianggap ‘kampiun demokrasi’, toh sampai detik hanya mampu memberikan kuliah tentang demokrasi; tak pernah menjadi contoh terbaik sebagai negara pengusung utama demokrasi. Di negerinya, bukan rakyat yang berdaulat, tetapi para pemilik modal (Nader, 1972). Menurut Hedrik Smith (1986), ini karena unsur terpenting dalam demokrasi Amerika hanya ada tiga: (1) uang (2) duit (3) fulus.
Di luar negeri, sejak berdirinya, Amerika telah mengintervensi bahkan menginvasi lebih dari 100 negara, termasuk membantai jutaan penduduk Irak dan Afghanistan, sekaligus menduduki kedua negara itu hingga kini. Semua ini menunjukkan bahwa ‘sang pendekar demokrasi’ ini sepanjang sejarahnya justru menjadi pionir negara anti demokrasi garda depan.
Bagaimana dengan Eropa? Sama saja. Dengan jargon kebebasannya, demokrasi di sana hanya menciptakan peradaban sampah; sebuah peradaban yang kering dari nilai-nilai ruhaniah dan sebaliknya sarat dengan nilai-nilai ‘hewaniah’. Selain itu, demokrasi banyak melahirkan para penguasa tak beradab, bahkan biadab, seperti Hitler, Musolini dan George W. Bush; juga para tiran kejam di Dunia Islam seperti Musharraf dan Zardari (Pakistan), Husni Mubarak (Mesir), Islam Karimov (Uzbekistan), dll.
Buku ini menguak begitu banyak aib demokrasi dalam segala aspeknya, justru di hadapan klaim-klaim kosong dan jargon-jargon sampah para pemujanya. Dengan paparan yang lugas dan bernas, buku ini berhasil membuktikan secara argumentatif dan faktual, bahwa demokrasi ideal hanya ada dalam khayal, dan cita-cita mewujudkan negara demokrasi tak lebih dari sebuah ilusi ! [Iwan Setiawan]
|
Comments
RSS feed for comments to this post.